Detransisi & Pengkhianatan: Kisah Saya

Saya disterilkan, kecanduan narkoba, dan ingin bunuh diri… mutilasi medis… gajah dalam ruangan… Saya membiarkan diri saya hancur.

Ikhtisar

Laura Becker, 27 tahun, menceritakan detransisinya pada usia 22 setelah menjalani testosteron, mastektomi ganda, dan menerima diagnosis PTSD yang berakar pada kekerasan masa kecil. Ia berpendapat bahwa transisi hanya menutupi luka-luka sebenarnya—autisme, PCOS, kekerasan dari ayah—dan membuatnya menjadi mandul, kecanduan obat, serta ingin bunuh diri, seraya menggambarkan detransisi sebagai siklus duka seumur hidup yang terdiri dari penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan.

Ringkasan Video Lengkap

Laura Becker, seorang perempuan berusia 27 tahun yang mulai mengidentifikasi diri sebagai transgender pada usia 18 dan mulai menggunakan testosteron pada usia 19, mengatakan kepada konferensi bahwa ia melakukan detransisi pada 2019 di usia 22 setelah mastektomi ganda dan diagnosis PTSD yang mengaitkan distresnya dengan kekerasan masa kecil, bukan dengan tubuhnya. Ia membingkai perjalanan hidupnya sebagai “kisah detransisi yang arketipal”: seorang gadis autistik dengan sindrom ovarium polikistik dan satu dekade kekerasan emosional dari ayah menemukan ideologi gender di Tumblr, dengan cepat diteguhkan oleh pihak sekolah dan para penjaga gerbang medis, lalu berakhir dalam keadaan disterilkan, kecanduan obat, dan ingin bunuh diri. Foto-foto yang ia tampilkan—mula-mula seorang anak yang riang, lalu dirinya pada usia 19 tahun memakai dasi kupu-kupu berusaha tampak seperti pria gay, dan akhirnya dirinya pada usia 22 tahun yang pucat dengan dada yang baru diratakan—ditawarkan sebagai bukti visual atas apa yang ia sebut “mutilasi medis” dan “gajah di dalam ruangan” yang harus dihadapi gerakan tersebut. Becker menegaskan bahwa momen penentu detransisi bukanlah penyesalan medis, melainkan kebangkitan psikologis: kesadaran bahwa “tubuh saya bukan masalahnya.” Ia mendefinisikan transisi itu sendiri sebagai “tindakan mengatasi ketidaknyamanan psikologis tentang menjadi laki-laki atau perempuan melalui modifikasi tubuh,” yang didorong oleh fantasi bahwa mengubah tubuh akan menyembuhkan kebencian pada diri sendiri dan penolakan sosial. Detransisi, kemudian, adalah runtuhnya fantasi itu dan awal dari proses berduka yang berputar melalui penyangkalan (“Saya benar-benar trans”), kemarahan (“Saya membiarkan diri saya dihancurkan”), tawar-menawar (“ini tetap membantu orang lain”), depresi (“Saya tidak akan pernah normal”), dan akhirnya penerimaan (“Saya selalu seorang gadis; apa yang terjadi itu kacau, tapi saya masih hidup”). Ia menekankan bahwa tahap-tahap ini berulang selamanya, membentuk spiral alih-alih garis lurus, dan bahwa klinisi harus memperlakukan para detransisioner bukan sebagai artefak politik yang eksotis, melainkan sebagai penyintas trauma biasa yang dikhianati oleh para profesional yang sama yang menjanjikan kesembuhan. Sebagian besar ceramahnya adalah taksonomi “masalah-masalah mendasar” yang gagal diselesaikan oleh transisi. Berdasarkan lima tahun wawancara dengan puluhan detransisioner, ia mencantumkan: trauma tubuh (PCOS, dismorfia, kekerasan seksual), luka keterikatan (keterasingan keluarga, pengabaian emosional), komorbiditas psikiatris (autisme, BPD, depresi), kenormalan perkembangan (pubertas, penghindaran kedewasaan ala “Peter Pan”), dan kebingungan seksual (lesbian, pria gay, dan—secara kontroversial, katanya—kebanyakan heteroseksual dalam kohort saat ini). Tanda centang hijau di samping tiap item menandakan bahwa semuanya berlaku baginya. Transisi, simpulnya, menyelesaikan “nol persen” dari masalah-masalah ini; ia hanya menutupinya dengan hormon dan operasi sementara luka yang sebenarnya membusuk. Pengkhianatan itu diperparah, tambahnya, ketika terapis yang dulu mempercepat medikalisasi kini menyambut para detransisioner dengan ketidaktahuan atau rasa ingin tahu halus ala tontonan aneh yang kembali men-traumatisasi mereka. Becker menutup dengan saran praktis bagi orang tua, klinisi, dan para detransisioner sendiri: sadari bahwa sebagian besar luka itu adalah “masalah manusia universal,” bukan masalah transgender yang khusus; pinjam modalitas duka dan trauma yang sudah ada alih-alih menciptakan ulang roda; dan akui trauma pengkhianatan yang membuat para detransisioner tidak mempercayai penolong baru mana pun. Ia memuji kelompok pemuda kritis-gender Genspect dan terapis Stella O’Malley karena memberinya ruang aman pertama untuk menjalani spiral dukanya sendiri, dan ia mengundang audiens untuk membaca memoar yang sedang ia selesaikan, *Surviving the Trans Myth*, yang judulnya ia tampilkan di samping akun Twitter-nya. Ceramah itu berakhir dengan permintaan maaf tergesa-gesa karena “membuang trauma” melebihi waktu yang dialokasikan, tetapi pesan tersiratnya adalah bahwa tumpahan itu adalah datanya: tubuhnya, dadanya yang penuh bekas luka, dan spiralnya yang terus berlanjut adalah bukti yang diminta konferensi untuk dilihat.